Cegah Kerugian Akibat Hama, Mahasiswa Polbangtan Sharing Ilmu Lewat SL POPT Cabai

0
40

Cabai merupakan salah satu komoditas pertanian strategis yang produksi dan harganya selalu menjadi pantauan Pemerintah khususnya Kementerian Pertanian (Kementan). Pasalnya fluktuasi harga maupun ketersedian cabai di pasaran seringkali turut mempengaruhi gejolak sosial ekonomi masyarakat.

Oleh karena itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), mengajak petani harus bisa menjaga dan meningkatkan produktivitas tanamannya, “Petani harus mampu menggenjot tanaman, karena, produktivitas yang meningkat itu bisa membantu petani meningkatkan pendapatan dan menjamin ketersedian bahan pangan di pasaran.”

Menindaklanjuti arahan tersebut Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang menggelar Sekolah Lapang (SL) Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Cabai di Bantul, D.I Yogyakarta. Langkah ini merupakan langkah pencegahan untuk mengatasi kerusakan tanaman sehingga produktivitas dan harga komoditas cabai tetap stabil di pasaran.

Hal tersebut sesuai dengan arahan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi yang terus mendorong Petani dan Penyuluh meningkatkan kapasitas dan pengetahuannya.

“Petani tidak boleh hanya sekadar tanam, panen, jual. Pengetahuan petani harus ditingkatkan. Petani harus mengetahui bagaimana cara menjaga tanaman, meningkatkan produktivitas, mengemas hingga menjualnya. Petani harus tahu aktivitas pertanian dari hulu sampai hilir,” kata Dedi.

Menggandeng Mahasiswa Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan (PPB) dan pakar OPT Polbangtan Yogyakarta Magelang, Petani peserta SL POPT tersebut mendapatkan materi tentang pengamatan jenis OPT Cabai hingga cara penanggulangannya. Heriyanto, salah satu dosen pakar di bidang Pengendalian OPT yang bertindak sebagai fasilitator, menjelaskan bahwa pada musim seperti ini serangan OPT baik hama dan penyakit pada tanaman cabai cenderung meningkat.

“Hama yang umumnya menyerang tanaman cabai adalah kutu daun, kutu kebul, lalat buah, ulat grayak, layu bakteri, antraknosa, dan penyakit lain yang disebabkan oleh virus dan bakteri,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut mahasiswa dan petani bersama-sama mengidentifikasi dan mengamati OPT yang ada pada demplot SL Cabai. Berdasarkan hasil pengataman, kemudian dicari alternatif solusinya.

“Kami mengamati gejala tanaman yang diduga terserang OPT, kemudian diidentifikasi jenis OPT dan intensitas serangannya, sehingga kami bisa menanganinya dengan tepat. Contohnya pada salah satu tanaman ini terlihat ada bercak melingkar cekung berwarna coklat pada pusatnya serta warna cokelat muda pada sekeliling lingkarannya, ini merupakan salah satu ciri tanaman terkena penyakit panthek,” terang Heri.

Pada perkembangannya, tambah Heri, bercak bisa meluas dan buah bisa busuk dan rontok jika tidak ditangani. Penyakit panthek sendiri merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur, dan jamur dapat berkembang pesat pada kelembapan di atas 90 persen dan suhu di bawah 32 derajat celsius sehingga perlu dilakukan langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan.

“Langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanaman panthek, salah satunya dengan pembersihan gulma, karena banyaknya gulma akan menghambat drainase terutama saat musim hujan. Selanjutnya dapat dilakukan pemangkasan pada tanaman cabai agar tidak terlalu rimbun, dan dilakukan penyemprotan menggunakan fungisida,” rinci Heri.

Selain hama panthek, hama seperti ular grayak dan belalang juga ditemukan pada kegiatan pengamatan tersebut. Heri menghimbau kepada seluruh peserta SL agar rajin untuk mengecek tanamannya agar produktivitas tanaman cabai optimal.

TINGGALKAN PESAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda disini