Berkomitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan Vokasi Pertanian Berkualitas, Tendik Polbangtan Kementan Jalani Magang

0
23

Sejumlah Tenaga Pendidik (Tendik) Politeknik Pembangunan (Polbangtan) Pertanian Yogyakarta Magelang dari Program Studi Agribisnis Hortikultura (AH) sambangi PT. Momenta Agrikultura di Lembang, Bandung, Jawa Barat. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka magang guna meningkatkan kompetensi diri yang dilakukan selama selama 3 hari penuh.

Peningkatan kapasitas Tendik ini merupakan salah satu upaya guna meningkatkan kualitas mutu pendidikan vokasi. Seperti yang dituturkan oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, bahwa pendidikan vokasi mempunyai peran penting dalam menghasilkan petani milenial.

“Melalui pendidikan vokasi kita menghubungkan dengan industri-industri agar lulusannya sesuai dengan kebutuhan dan siap untuk hal-hal baru. Oleh karena itu dukungan SDM tenaga pendidik dan sarana pra sarana pendidikan juga harus punya kualitas tinggi,” ujar SYL.

Sementara Dedi Nursyamsi, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) dalam berbagai kesempatan selalu menyampaikan bahwa dalam menjalankan tugas utamanya sebagai pendidik di lembaga pendidikan vokasi pertanian harus senantiasa meningkatkan kompetensinya.

“Tugas utama Pegawai lingkup Pusat Pendidikan Pertanian yaitu mencetak qulified job seeker dan qualified job creator, harus mampu menanamkan pemahaman tentang transformasi pertanian tradisional menjadi pertanian modern yang menghasilkan uang kepada para petani milenial. Terus berinovasi dan tingkatkan kapasitas diri,” pesan Dedi.

Peserta kegiatan magang yang terdiri dari Dosen, Petugas Laboratorium Pendidikan (PLP), dan Pengelola Teaching Factory (TEFA) ini disambut langsung oleh Dedy Suhariyanto selaku General Manager Produksi PT. Momenta Agrikultura. Pada kesempatan tersebut para peserta diajak berkeliling area perusahaan guna melihat langsung pengelolaan bisnis hortikultura yang telah digeluti perusahaan ini sejak 24 tahun silam.

“PT Momenta Agrikultura ini telah berdiri sejak 1998 silam dan merupakan perusaan pertama yang menggunakan greenhouse secara komersial untuk menanam sayur dengan teknologi aeroponik dan Nutrient Film Technique (NFT). Ini juga salah perusahaan yang berhasil melewati krisis moneter tahun 98 dan membuktikan bahwa bisnis pertanian adalah bisnis yang tahan terhadap resesi ekonomi,” klaim Dedi saat menyambut para peserta magang.

Selama kurun waktu 3 hari tersebut, para tendik ini mempelajari proses bisnis hortikultura mulai dari prosedur penyiapan greenhouse, pembibitan, nursery, produksi, panen, pasca panen, hingga teknik marketing.

“Sasaran pasar kami adalah segmen premium, oleh karena itu kualitas menjadi kunci dari bisnis kami. Semua kegiatan dilakukan dengan SOP yang ketat. Mulai dari persiapan lahan, hingga produk sampai di tangan konsumen kami jamin kualitasnya tidak berubah,” ujar Dedi.

Diakui Rika Nalinda, selaku Ketua Program Studi AH, Perusahaan yang kini sudah memiliki merek dagang paten “Amazing Farm” ini memang telah menjadi incaran dirinya untuk dijadikan lokasi magang para tendik. Pasalnya perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan bidang hortikultura yang tidak diragukan lagi sepak terjangnya.

“Produk-produk hortikultura berkualitas dari sini seperti aneka sayuran premium, ada zucchini, kabocha, baby romaine, salanova, beef tomato, rosemary, thyme, hingga berbagai jenis edible flower yang digunakan untuk garnish oleh berbagai café dan hotel baik di dalam dan luar negeri dihasilkan dari green hosuse yang ada di sini. Kami ingin mengulik lebih jauh bagaimana mereka mengelola bisnisnya hingga sesukses sekarang ini,” kata Rika.

Selain di pasok ke supermarket, hotel, dan café, produk-produk Amazing farm ini juga diekspor hingga Singapur dan Brunei. Rika menyambung bahwa setelah kegiatan magang ini pihaknya akan menindaklanjuti dengan mereplikasi sistem yang ada ke model pembelajaran Teaching Factory yang ada di Polbangtan YoMa.

“Kami akan coba terapkan apa yang kami peroleh di sini di lahan TEFA Biofarmaka Sempu. Tadi kami juga lihat bagaimana berbagai tanaman biofarmaka seperti mint, rosemary, thyme dan tanaman lain yang dipanen daunnya bisa dikembangkan menjadi produk-produk premium. Setidaknya kuncinya yaitu melakukan Sorting, Grading, Branding, dan Marketing langsung ke segmen premium yang dituju,” terang Rika.

TINGGALKAN PESAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda disini