Buka Wawasan Mahasiswa, Polbangtan Kementan Angkat Pertanian Modern Berkelanjutan dalam Seminar Nasional

0
148

Bertepatan dengan peringatan Hari Tani Nasional, Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) menggelar Seminar Nasional (SEMNAS). Digawangi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), SEMNAS yang bertema Agriculture Generation for Sustainable Modern Agriculture ini merupakan salah satu bentuk kontribusi mahasiswa pertanian untuk memajukan pembangunan pertanian Indonesia.

“tujuan yang melatarbelakangi diadakannya acara ini yaitu memberikan edukasi kepada peserta Seminar Nasional mengenai peran Generasi Pertanian dalam Menuju Pertanian yang Modern dan Berkelanjutan. Serta memotivasi seluruh peserta Seminar Nasional agar memiliki jiwa-jiwa sebagai agen pembangunan, perubahan, dan pembaharuan dalam perkembangan pertanian masa depan,” ujar Defita Putri, saat menyampaikan laporan Panitia.

Konsep pertanian modern yang berkelanjutan dalam hal ini menjurus terhadap teknologi untuk mencapai pertanian yang modern. Direktur Polbangtan YOMA, Bambang Sudarmanto mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya tema yang diambil sesuai dengan kondisi saat ini.

“Lalu bagaimana kita bisa mengoptimalkan dan memberdayakan sumberdaya manusia yang kompeten? Mahasiswa harus dapat menjawab tantangan itu, SDM harus berperan betul dalm mengoptimalisasikan pertanian diindonesi. Cara mengoptimalisasikan pertanian Indonesia di era modern ini jawabnnya adalah dengan inovasi serta teknologi,” ujarnya.

Bambang menambahkan, mahasiswa juga harus mampu memacu kreatifitas dan memahami pasar, “Pasar adalah hal utama yang harus kita lakukan sebelum meningkatkan kapasitas produksi. Market oriented menjadi hal yang utama. Mari kita memotivasi diri untuk menjadi insan wirausaha pertanian yang kompeten di era persaingan yang ketat ini.”

Menghadirkan narasumber dari kalangan praktisi dan akademisi, materi yang disampaikan sangat lengkap dan bernas. Agus Wibowo, owner Agro Lestari berkemsempatan menjadi narasumber pertama yang berbagi ilmu dan pengalamannya. Membawa materi tentang pertanian inovatif menuju ekonomi yang kreatif, Agus memaparkan bahwa konsep pertanian modern yang berkelanjutan tidak hanya memperhatikan keuntungan semata.

“Konsep pertanian berkelanjutan mengedepankan 3P yaitu profit, people, dan planet. Bagaimana kita berinovasi sehingga dapat meminimalkan biaya produksi, namun hasil tetap meningkat sehingga profit meningkat. Bagaimana kita mengolaborasikan inovasi dengan budaya dan sistem market tradisional sehingga dapat menguntungkan secara ekonomi dan berkelanjutan secara lingkungan,” papar Agus.

Sementara Shofyan Adi Cahyono, owner PO. Sayur Organik Merbabu (SOM) berbagi pengalaman bagaimana perusahaannya menyusun strategi untuk membangun bisnis yang berkelanjutan sampai seperti sekarang ini.

“Ciri ciri agrosociopreneur milenial yaitu melakukan usaha yang tujuannya bukan hanya mencari profit sebanyak-banyaknya dan digunakan untuk memuaskan kepentingan sendiri, namun mempraktikan usaha yang bertanggungjawab terhadap lingkungan dan sosial disekitarnya. Itulah yang SOM jadikan landasan dalam menjalankan usaha, bergerak diranah modern namun tidak sepenuhnya meninggalkan cara-cara sebelumnya,” papar Shofyan.

Dua narasumber lainnya hadir dari internal Polbangtan YOMA yaitu Siti Nurlaela dan Bayu Wijaya. Keduanya berbicara mengenai bagaimana membangun pertanian dengan paradigma pemberdayaan masyaraat serta pengembangan start up di bidang pertanian.

Kegiatan SEMNAS semacam ini rutin digelar sebagai salah satu upaya pembentukan karakter sekaligus pembuka wawasan bagi mahasiswa Polbangtan yang kelak akan menjadi kader pembangunan pertanian di masa depan. Hal ini selaras dengan cita-cita Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo yang menginginkan kemajuan SDM Pertanian Indonesia.

“Generasi milenial itu generasi teknologi modern. Pertanian kita akan dikelola modern nantinya. Ditambah lagi tingkat pendidikan yang maju dari generasi milenial sehingga petani bukan golongan terbelakang lagi,” kata SYL/

Senada dengan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi yang menyampaikan bahwa saat ini pertanian memang sedang dalam fase trasformasi menuju pertanian modern.

“Transformasi harus dilakukan, pertanian modern dicirikan dengan produktivitas yang tinggi. Karena jika masih menggunakan cara-cara lama, kita akan terseok-seok memenuhi kebutuhan pangan bagi 274 juta Rakyat Indonesia,” tegasnya.

TINGGALKAN PESAN

Silakan masukkan komentar Anda!
Silakan masukkan nama Anda disini